27
August
2012

CTW, alternatif baru pengolahan limbah berbasis lingkungan

CTW, alternatif baru pengolahan limbah berbasis lingkungan

CTW, alternatif baru pengolahan limbah berbasis lingkungan

Jika sebelumnya kita seringkali membahas tentang bioremediasi atau pengolahan limbah menggunakan agen – agen biologis seperti bakteri dan jamur yang ramah lingkungan, maka sudah saatnya kita juga membuka wawasan baru tentang pengolahan limbah secara biologis lain, dengan sedikit rekayasa lahan (site engineering ), sebuah teknologi tepat guna ramah lingkungan “Lahan Basah Buatan” yang lebih dikenal dengan Constructed Treatment Wetland. Teknologi ini merupakan sinergi dari agen bioremediasi yang bersimbiosa dengan sistem perakaran tanaman tinggkat tinggi yang memiliki kapasitas meremediasi lingkungan (agen fitoremediasi). Tumbuhan yang digunakan dalam fitoremediasi adalah tumbuhan lahan basah (vegetasi wetland) seperti eceng gondok (Euchornia crassipes), kayu apu (Azolla pinnata), dan kiambang (Salvinia molesta).

CTW (Constructed Treatment Wetland) adalah implementasi dari teknik fitoremediasi yang mulai berkembang saat ini dan mulai banyak digunakan untuk mengolah limbah organik maupun anorganik oleh berbagai industri baik skala rumah tangga maupun skala nasional. CTW merupakan rawa buatan dengan sistem pengolahan terencana atau terkontrol yang didesain dan dibangun dengan menggunakan proses alami yang melibatkan vegetasi wetland, tanah dan mikroorganisme untuk mengolah air limbah. Di daerah tropis seperti Indonesia, CTW memiliki peluang lebih besar mendapatkan hasil yang optimal karena tidak adanya musim dingin yang dapat menurunkan aktivitas mikroorganisme dan tanaman khususnya untuk penyisihan senyawa nitrogen dan fosfor.

Dalam CTW, Terdapat dua sistem yang dikembangkan saat ini yaitu:

  • Free Water Surface System (FWS)

FWS disebut juga rawa buatan dengan aliran di atas permukaan tanah. Sistem ini berupa kolam atau saluran-saluran yang dilapisi dengan lapisan impermeable dibawah saluran atau kolam yang berfungsi untuk mencegah merembesnya air keluar kolam atau saluran.  FWS tersebut berisi tanah sebagai tempat hidup tanaman yang hidup pada air tergenang (emerge plant) dengan kedalaman 0,1 – 0,6 m.  Pada sistem ini limbah cair melewati permukaan tanah. Pengolahan limbah terjadi ketika air limbah melewati akar tanaman, kemudian air limbah akan diserap oleh akar tanaman dengan bantuan bakteri.  Keuntungan sistem ini adalah biaya pengolahan yang murah, sedangkan kelemahannya yaitu berpotensi menjadi sarang nyamuk khususnya jika tidak dipelihara ikan pemakan nyamuk di dalamnya.

  • Sub-surface Flow System (SSF)

SFS disebut juga rawa buatan dengan aliran di bawah permukaan tanah.  Air limbah mengalir melalui tanaman yang ditanam pada media yang berpori. Sistem ini menggunakan media seperti pasir dan kerikil dengan diameter bervariasi antara 3 – 32 mm.  Zona inlet dan outlet biasanya digunakan diameter kerikil yang lebih besar untuk mencegah terjadinya penyumbatan.

Proses pengolahan yang terjadi pada sistem ini adalah filtrasi, absorbsi oleh mikroorganisme, dan absorbsi oleh akar-akar tanaman terhadap tanah dan bahan organik. Pada sistem SFS diperlukan slope untuk pengaliran air limbah dari inlet ke outlet. Tipe pengaliran air limbah pada umumnya secara horizontal, karena jenis ini memiliki efisiensi pengolahan terhadap suspended solid dan bakteri lebih tinggi dibandingkan tipe yang lain. Hal ini disebabkan karena daya filtrasinya lebih baik.  Kelebihan dari sistem SFS ini adalah ditutup dengan pasir atau tanah, sehingga tidak ada resiko langsung terhadap potensi timbulnya nyamuk.

so, Go Green !!!

Posted in Oceanica, | Tags : ,

ads

One Response here...

  1. don seno says:

    teknologi sederhana ramah lingkungan

Leave a Reply

[+] monkey emoticons

Latest Posts

×

Categories

×

Recent Comments

×

Powered by Wordpress with an original design by Coralitus