8
February
2011

Eceng Gondok, Gulma Perairan yang Menyerap Logam Berat

Eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang ilmuan berkebangsaan Jerman bernama Carl Friedrich Philipp von Martius, seorang ahli botani pada tahun 1824 ketika sedang melakukan ekspedisi di Sungai Amazon Brasil, sedangkan tumbuhan ini di perkirakan masuk ke Indonesia pada tahun 1894 oleh bangsa kolonial. Penanaman eceng gondok di Indonesia pada awalnya adalah bertujuan untuk melengkapi dan memperindah suasana kebun raya Bogor karena bunga eceng gondok yang indah dan berwarna ungu muda. Namun, keindahan tersebut hanya dapat dinikmati sekejap karena tak lama kemudian hanya masalah yang ditimbulkannya.

Hal serupa juga dialami oleh negara asalnya, Brasil. Eceng gondok yang memiliki nama latin Euchornia crassipes ini di Amerika mendapat julukan million dollar weed karena pemerintah sudah menghabiskan biaya jutaan dolar untuk membasminya, bahkan di Thailand dijuluki praktob java yang artinya penyakit yang berasal dari Jawa karena  kebetulan Thailand mendapatkan tumbuhan eceng gondok dari Jawa. Selain dikenal dengan nama eceng gondok, di beberapa daerah di Indonesia, eceng gondok mempunyai nama lain seperti di daerah Palembang dikenal dengan nama Kelipuk, di Lampung dikenal dengan nama Ringgak, di Dayak dikenal dengan nama Ilung-ilung dan  di Manado dikenal dengan nama Tumpe.

uhuk Eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan mengapung di air dan kadang-kadang berakar dalam tanah. Tingginya sekitar 0,4 – 0,8 meter, memiliki akar serabut  dan tumbuhan ini tidak memiliki batang. Daun tumbuhan eceng gondok tunggal dan berbentuk oval dengan ujung dan pangkalnya meruncing, Pangkal tangkai daun menggelembung dan permukaan daunnya licin serta berwarna hijau. Bunganya termasuk bunga majemuk, berbentuk bulir, kelopaknya berbentuk tabung. Bijinya berbentuk bulat dan berwarna hitam. Buahnya kotak beruang tiga dan berwarna hijau.

Eceng gondok memiliki kecepatan tumbuh yang sangat tinggi, selain itu eceng gondok juga dapat dengan mudah menyebar melalui saluran air ke badan air lainnya sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan.  Beberapa dampak negatif eceng gondok di perairan diantaranya adalah meningkatnya penguapan air karena daun – daun eceng gondok yang lebar, menurunnya jumlah sinar matahari yang masuk ke perairan, serta tumbuhan eceng gondok yang mati akan turun ke dasar perairan sehingga menyebabkan pendangkalan perairan.

baca Sampai saat ini, eceng gondok memang sudah banyak di manfaatkan oleh masyarakat, khususnya untuk bahan baku kerajinan seperti sandal, tas, tikar dan sebagainya. Namun selain untuk bahan baku kerajinan tersebut, sebenarnya eceng gondok masih memiliki manfaat lagi bagi manusia, yaitu sebagai penyerap logam berat di perairan. Logam berat berdampak buruk bagi kesehatan manusia karena dapat bersifat karsinogenik atau menyebabkan kanker. Logam – logam berat diantaranya adalah Cadmium (Cd), timbal (Pb), dan merkuri (Hg).

Secara alami berbagai logam berat terkandung di dalam tanah, terutama tanah yang berasal dari batuan induk tertentu seperti tanah ultramafik (serpentin).  Namun kegiatan manusia dapat meningkatkan level logam berat di dalam tanah dan perairan secara luar biasa. logam – logam berat ini banyak terbuang bersama limbah – limbah hasil pertambangan, baik emas, minyak bumi, dan lainnya. Bahkan, dalam lumpur Lapindo yang keluar dari Sumur Banjar Panji I di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Timur menemukan adanya tiga jenis logam berat berupa tembaga, timbal dan cadmium.

phew Tingkat pencemaran logam berat sebagai akibat kegiatan manusia yang tidak terkendali tampak pula dari data kandungan 4 (empat) logam berat di Jakarta dan sekitarnya (Priyanto dan Suryati, 2000). Di daerah yang kegiatan industrinya menonjol dan telah berlangsung dalam jangka lama tingkat pencemaran timbal dan kromium di tanah masing-masing mencapai 206 – 449 mg/kg dan 56 – 266 mg/kg. Sebaliknya, di wilayah sub-urban yang jauh dari kegiatan industri kadar timbal dan kromium di tanah hanya sebesar 24 dan 1 mg/kg.

Pada kasus penambangan emas tradisional di propinsi Sulawesi utara, penambang – penambang tersebut menggunakan merkuri untuk pengolahan biji emas. Penangkapan 1 (satu) gram emas diperkirakan melepaskan l (satu) gram merkuri ke lingkungan, dimana sebagian terlepas di udara dan sebagian lagi terlepas ke perairan bersama dengan lumpur (tailing) hasil pencucian.  Dengan demikian dapat dihitung jumlah pencemaran yang terjadi dalam satu satuan produksi sebagaimana yang disampaikan Kamagi (1989) bahwa produksi tambang emas rakyat pada tahun 1986/1987 berjumlah 3 – 5 ton.

Rangkaian penelitian seputar kemampuan eceng gondok dalam menyerap logam berat oleh peneliti Indonesia sudah di lakukan antara lain oleh Widyanto dan Susilo (1977) yang melaporkan dalam waktu 24 jam eceng gondok mampu menyerap logam kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan nikel (Ni), masing- masing sebesar 1,35 mg/g, 1,77 mg/g, dan 1,16 mg/g bila logam itu tak bercampur. Eceng gondok juga menyerap Cd 1,23 mg/g, Hg 1,88 mg/g dan Ni 0,35 mg/g berat kering apabila logam-logam itu berada dalam keadaan tercampur dengan logam lain. Lubis dan Sofyan (1986) menyimpulkan logam chrom (Cr) dapat diserap oleh eceng gondok secara maksimal pada pH 7. Dalam penelitiannya, logam Cr semula berkadar 15 ppm turun hingga 51,85 %. Sedangan penelitian Tommy (2009) juga menunjukkan bahwa eceng gondok mampu menyerap logam berat sampai 42,42 ppm dan masih banyak lagi penelitian – penelitian tentang kemampuan eceng gondok dalam menyerap logam berat sampai saat ini.

plis Dari banyaknya penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti – peneliti kita ini, diharapkan dapat menjadi pandangan baru serta meningkatkan kesadaran masyarakat Indonesia, khususnya pemerintah dan para pelaku industri untuk bersama – sama mencegah dan menanggulangi pencemaran logam – logam berat baik di tanah, udara maupun perairan dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan bangsa.

ads

One Response here...

  1. dham- says:

    baca karenanya, eceng gondok d manfaatkan untuk bahan dlm CTW, Constructed Treatment Wetland

Leave a Reply

[+] monkey emoticons

Latest Posts

×

Categories

×

Recent Comments

×

Powered by Wordpress with an original design by Coralitus