7
February
2011

Hotspot is in Anywhere

Tiga tahun lalu, saat sang dosen memberi tugas untuk mereview jurnal-jurnal ilmiah terbaru, maka sebagian besar mahasiswa akan mengobrak-abrik UPT perpus pusat untuk mencari jurnal-jurnal itu, namun sebagian kecil mahasiswa lebih memilih cara yang lebih praktis. Mereka hanya perlu ke warung internet (warnet) untuk mencari apapun yang dibutuhkan, termasuk jurnal-jurnal ilmiah itu. Meskipun kadang, mereka harus rela mengantri berjam-jam untuk bisa mendapatkan fasilitas tersebut. Namun itu hanya tiga tahun yang lalu, seiring berjalannya waktu, fasilitas internet bisa dinikmati dengan mudahnya, warnet yang dulu hanya satu dua di kawasan kampus Unsoed, kini hampir bisa ditemui di setiap jarak 200 meter.

Selain fasilitas di warnet-warnet tersebut, kini muncul pula solusi yang  yang lebih praktis. Internet bisa dinikmati di rumah makan, kampus, café dan tempat-tempat umum lainnya. Hal ini tentu saja sangat memudahkan kita untuk mendapatkan informasi apapun yang kita butuhkan kapan saja. Kemudahan itu dikarenakan adanya hotspot. Catatan di Wikipedia menyebutkan bahwa Hotspot (Wi-Fi) adalah salah satu bentuk pemanfaatan teknologi Wireless LAN pada lokasi-lokasi publik seperti perpustakaan, restoran ataupun bandara. Pertama kali digagas tahun 1993 oleh Brett Steward. Dengan pemanfaatan teknologi ini, individu dapat mengakses jaringan seperti internet melalui komputer atau laptop yang mereka miliki di lokasi-lokasi dimana hotspot disediakan.

Wireless atau dalam bahasa Indonesia disebut nirkabel, adalah teknologi yang menghubungkan dua piranti untuk bertukar data tanpa media kabel. Data ditukarkan melalui media gelombang cahaya tertentu (seperti teknologi infra merah pada remote TV) atau gelombang radio (seperti Bluetooth pada komputer dan ponsel) dengan frekuensi tertentu.

Kelebihan teknologi ini adalah mengeliminasi penggunaan kabel, yang cukup mengganggu secara estetika, dan juga kerumitan instalasi untuk menghubungkan lebih dari 2 piranti bersamaan. Misalnya: untuk menghubungkan sebuah komputer server dengan 100 komputer client, dibutuhkan minimal 100 buah kabel, dengan panjang bervariasi sesuai jarak komputer klien dari server. Jika kabel-kabel ini tidak melalui jalur khusus yang ditutupi (seperti cable tray atau conduit), hal ini dapat mengganggu pemandangan mata atau interior suatu bangunan. Pemandangan tidak sedap ini tidak ditemui pada hubungan antar piranti berteknologi nirkabel.

Sayangnya, di sekitar kita teknologi wireless hanya bisa dinikmati di tempat-tempat tertentu saja, seperti kampus dan café ataupun rumah makan. Hal itu tentu saja bisa menjadi kendala, bayangkan saja jika kita harus mencari data di internet untuk menyelesaikan deadline skripsi, sedangkan saat itu tanggal merah, otomatis kampus juga tutup dan wireless pun tidak dapat digunakan. Padahal warnet-warnet juga sedang tutup karena pekerjanya mudik, trus kalau kita ke café atau rumah makan tapi pas koceknya limit, bisa buat kita lebih tidak nyaman lagi memanfaatkan hotspot disitu, malah bisa-bisa kita ditunggu terus oleh pelayan café itu sampai kita pesan makanan. Ah, pokoknya itu semua tidak cukup membuat kita nyaman. Intinya, fasilitas hotspot seharusnya bisa dinikmati dimanapun, dan kapanpun seperti di taman, alun-alun, kantor pos, terminal, stasiun bahkan di jalan dan semua tempat di sekitar kita. Hotspot is in anywhere, are you agree?

Posted in Diari Publik, | Tags : , ,

ads

Leave a Reply

[+] monkey emoticons

Latest Posts

×

Categories

×

Recent Comments

×

Powered by Wordpress with an original design by Coralitus