7
February
2011

Isu Gender Yang Menyebalkan

“Wong wadon kuwe nang padon”.  Ujar Kakek temanku setiap kali aku mengajak cucunya melanjutkan sekolah. Pendidikan kami sampai SD bagi kakek temanku itu sudahlah amat cukup, karena baginya perempuan bukanlah apa-apa.

Banyak sekali yang masih beranggapan bahwa perempuan sia-sia saja melanjutkan sekolah, jika akhirnya hanya sampai ke dapur. Menjadi ibu rumah tangga. Karenanya, bekal bagi perempuan cukuplah bisa menulis dan membaca saja, tidak lebih.  Pendidikan, pengalaman berjuang, dan mandiri hanya layak diterima oleh laki-laki, karena kelak menjadi pemimpin dan harus bertanggung jawab menafkahi anak dan istri. Pendapat-pendapat semacam itu masih bisa kita jumpai di dalam rumah-rumah kecil di pedesaan. Realitas yang begitu sarat akan diskriminasi gender. Namun, yang lebih mengherankan, meskipun sebenarnya perempuan secara tegas mengatakan bahwa diskriminasi gender benar-benar menyebalkan, di kehidupan sehari-hari masih sering kita temui peng-iya-an genderisasi.

Sebagai contoh, suatu hari di sebuah acara malam keakraban himpunan mahasiswa, saat seorang mahasiswa berkata pada seorang mahasiswi “cui, kamu yang nyuci piring ya, kan kamu yang cewe”. alih-alih mahasiswi tersebut menolak pernyataan itu, justru mengatakan “ah, nyebelin. Coba aku cowo”. Saat mahasiswi mengatakan “coba aku cowo” sebenarnya sacara tidak sadar ia meng-iya-kan genderisasi, hal yang sangat aneh mengingat pernyataan itu dilontarkan olah seorang mahasiswi, seorang berpendidikan yang seharusnya lebih mengerti apa itu kesamaan gender dan minimal bisa menyikapi hal-hal semacam itu.

Kebanyakan orang memang menganggap bahwa pekerjaan mencuci, memasak dan menyapu adalah pekerjaan sepele, sehingga yang patut mengerjakannya adalah perempuan, sedangkan laki-laki lebih pantas mengerjakan hal-hal yang dianggap berat seperti menyupir, mengecat rumah, dsb. Sampai akhirnya pernyataan itu menjadi budaya di masyarakat, laki-laki di luar dan perempuan di dalam rumah. Kenyataan ini bahkan telah berlangsung berabad-abad, sehingga akan sulit mengubah pola pikir masyarakat yang sudah mengakar itu.

Peningkatan pendidikan merupakan solusi yang tepat yang bisa mengubah pola pikir diskriminatif tersebut, karenanya  anak-anak kita baik laki-laki maupun perempuan harus mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan, pengalaman, dan pengetahuan. Mereka juga layak mendapatkan kebebasannya, baik dalam berpikir maupun dalam bertindak, dan kita wajib mendukungnya selama hal itu masih dalam batas kewajaran. Sehingga diharapkan tidak ada lagi kata-kata “kan kamu yang cewe” ketika seorang mahasiswa meminta seorang mahasiswi untuk mencuci piring, melainkan “pren, bisa tolong cuciin piringnya?”. Kalihatannya kata-kata itu lebih nyaman di dengar di telinga kita.

Note :

Wong wadon kuwe nang padon : perempuan itu di pojok.

ads

Leave a Reply

[+] monkey emoticons

Latest Posts

×

Categories

×

Recent Comments

×

Powered by Wordpress with an original design by Coralitus